Foto Salah Satu Pengerjaan Jalan Tol Trans Sumatera
Sumber : PT. Hutama Karya Infrastruktur
Latar Belakang
Tol Trans Sumatera merupakan proyek yang tak terpisah dengan
gagasan pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang menghubungkan Pulau
Jawa-Sumatera. Di era pemerintahan Presiden SBY, proyek Tol Trans Sumatera
merupakan bagian dari Program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI), sebuah konsep pembangunan berbasis kawasan. Dalam
MP3EI, koridor Sumatera akan menjadi sentra produksi dan pengolahan hasil bumi
dan lumbung energi, jaringan jalan tol menjadi konektivitasnya. Koridor
Sumatera terhubung dengan JSS dengan koridor Jawa sebagai sentra pendorong
industri dan pusat jasa nasional.
Proyek JSS dibatalkan oleh Jokowi di awal pemerintahannya.
JSS dianggap bertentangan dengan semangat membangun perekonomian berbasis
kemaritiman yang digaungkan Jokowi. Meski JSS batal, proyek Trans Sumatera
tetap dilanjutkan. Untuk menghubungkan Jawa dan Sumatera, pemerintah akan
memperluas pelabuhan sekaligus memperbanyak kapal penyeberangan di Selat Sunda
dari Pelabuhan Bakauheni ke Merak dan sebaliknya.
Sumber
Dana
Jalan Tol Trans Sumatera yang menggunakan skema penugasan
kepada perusahaan BUMN, PT. Hutama Karya (Persero) memiliki sumber dana dari
PMN, Bond Hutama Karya, dan viability gap fund (VGF) untuk 130 km. Sebagaimana dirilis
pada http://properti.kompas.com/read/2017/03/24/135041821/hutama.karya.gerilya.cari.dana.tol.trans-sumatera
yang dituturkan oleh Direktur Utama PT.
Hutama Karya (Persero), I Gusti Ngurah Putra, di Jakarta, Rabu (22/3/2017), "Modalnya
sendiri butuh Rp 50 triliun. Yang sudah ada sekarang dari PMN Rp 5,6 triliun,
bond Hutama Karya Rp 6,5 triliun, dukungan dana tunai infrastruktur atau
viability gap fund (VGF) untuk 130 kilometer sebesar Rp 13 triliun.” Sedangkan
kekurangannya bakal dicari dengan berbagai cara bersama dengan Menteri
Keuangan, Menteri BUMN, dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Dari penuturan Direktur Utama PT. Hutama
Karya (Persero), I Gusti Ngurah Putra, sumber dana pembangunan Jalan Tol Trans
Sumatera yang tersedia saat ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa kekurangan dana saat ini sebesar kurang lebih Rp 25 triliun lagi akan dicari dengan berbagai cara bersama dengan Menteri Keuangan, Menteri BUMN, dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Jumlah Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR)
Secara ekonomi, menurut Direktur Utama Hutama Karya I Gusti
Ngurah Putra , tol Trans Sumatera sangat dibutuhkan oleh masyarakat di pulau
tersebut. Namun secara komersial proyek itu disebutnya memiliki nilai imbal
balik investasi yang kecil sehingga dianggap tidak menarik jika dikerjakan oleh
perusahaan swasta yang cenderung mengejar keuntungan.
Ia mencontohkan, trafik kendaraan harian yang akan melewati
jalan tol Medan-Binjai masih jauh dari target Lalu lintas Harian Rata-rata
(LHR) sekitar 17 ribu-18 ribu kendaraan per hari. Sedangkan untuk dianggap
proyek menguntungkan, LHR di ruas tersebut harusnya mencapai 20 ribu kendaraan per
hari.
Data Penduduk
Berdasarkan website dari BPS https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/842 . Kepadatan penduduk Pulau Sumatera apabila dibandingkan Pulau Jawa, Bali, dan NTB sebagai berikut :
Dari Tabel di atas terlihat bahwa rata-rata kepadatan
penduduk di Ibukota Negara Indonesia saat ini, DKI Jakarta, hampir 120 kali
lipat dibandingkan Pulau Sumatera, Sedangkan Pulau Jawa kepadatan penduduknya
sekitar 10 kali lipat dibandingkan Pulau Sumatera. Bahkan apabila dibandingkan
dengan Bali dan NTB pun kepadatannya masih kalah cukup jauh.
Kesimpulan
Jalan Tol Trans Sumatera sesungguhnya kurang layak secara
ekonomi karena tingkat pengembalian hasil dari investasi jalan tol tersebut
sangat kecil. Namun Jalan Tol Trans Sumatera berperan sebagai pemacu tumbuhnya
ekonomi di Sumatera.
Selain
itu Jalan Tol Trans Sumatera juga bisa sebagai pemerataan pembangunan di
Indonesia sehingga diharapkan kepadatan penduduk di Jawa dapat berkurang karena
adanya perpindahan penduduk dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera. Tetapi dengan
semboyan sebagian orang Jawa yang masih memiliki anggapan ‘mangan orak mangan
seng penting kumpul’ yang diartikan makan tidak makan yang penting bisa
berkumpul dengan keluarganya, bisakah pemerataan penduduk dapat terwujud?



Tidak ada komentar:
Posting Komentar